Libur Lebaran Menginap di Kampung Budaya Sindangbarang

Sampurasun! Sapaan itu akan sering Anda dengar ketika berada di Kampung Budaya Sindangbarang, Bogor, Jawa Barat. Budaya dan tradisi Sunda memang sangat kental dihadirkan di tempat ini demi melestarikan dan menggali kekayaan warisan leluhur.
Sebagai kampung adat, Kampung Sindangbarang memegang teguh tradisi Sunda. Acara tahunan Seren Taun, misalnya, rutin digelar dengan ritual khasnya, sebagai wujud rasa syukur atas berlimpahnya hasil panen dan hasil bumi yang diperoleh tahun itu. Acara ini digelar setiap bulan Muharram dengan harapan dapat memperoleh hasil bumi dan panen lebih banyak di tahun mendatang. Dalam acara ini, masyarakat mengumpulkan hasil bumi yang kemudian diarak selama tujuh hari.

Kerukunan menjadi ciri khas Kampung Sindangbarang. Namun, belakangan warga pendatang dan modernisasi masuk mengikis perlahan kerukunan serta acara Seren Taun sendiri.

Modernisasi datang ke kampung-kampung, tidak ada kerukunan, banyak pendatang bahkan Seren Taun terancam, ujar Abah Encep, Kokolot atau Pengelola Kampung Budaya, saat ditemui Okezone di Kampung Budaya Sindangbarang, belum lama ini.

Demi menangkal dampak buruk modernisasi pada kelestarian tradisi dan budaya Sunda, para tetua adat pun mendirikan Padepokan Giri Sunda Pura pada 2005. Padepokan ini merekrut pemuda-pemudi untuk dilibatkan dalam upacara adat. Pada perayaan Seren Taun ketika itu, hasil bumi masyarakat diarak ke tengah lapangan dengan tenda-tenda di sekelilingnya. Namun, salah seorang budayawan Sunda yang kala itu datang, mengaku kecewa dengan adanya tenda modern tersebut. Dia pun menyarankan dibuatnya kawasan kental budaya dan tradisi Sunda, dari segi alat, bahan, hingga rupa bangunan, dan peralatannya.

Inilah cikal bakal dibangunnya Kampung Budaya Sindangbarang. Tepat 4 Maret 2007 diletakkanlah batu pertama untuk pembangunanya. Selesai dibangun, kawasan inipun dibuka bagi wisatawan lokal maupun asing.

Sasaran paling utama adalah pelajar TK hingga SMA. Alasannya karena kami ingin memperkenalkan kembali seni Sunda yang sudah pudar, tuturnya.

Jalan aspal yang mengantar Anda akan terhenti saat memasuki kawasan Kampung Budaya. Akan ada jalan menanjak berbatu yang akan membawa Anda ke komplek bangunan tradisional Sunda itu.

Barisan bangunan tradisional ditambah hamparan sawah menebarkan suasana khas pedesaan yang kian langka ditemui. Bangunan-bangunan unik khas Sunda, seperti leuit atau tempat menyimpan padi, bale riungan atau aula, imah gede atau rumah tinggal pupuhu (pimpinan), saung talu atau tempat pementasan seni, hingga girang serat yang difungsikan sebagai kesekertariatan.

Hening, tanpa suara gemuruh kendaraan. Semilir angin membawa aroma khas tumbuhan yang menebar kesejukan menjadi suasana yang mahal untuk didapat. Belum lagi rerumputan yang bergoyang ditiup angin, semakin membawa nuansa alam khas desa di tanah Sunda.

Rumah panggung juga turut melengkapi Kampung Budaya. Rumah yang dibangun di atas batu penyangga ini dikatakan dapat mengantisipasi goncangan gempa.

Kalau dengan rumah panggung, Insya Allah mau gempa seperti apapun enggak akan rusak, ujarnya.

Melalui Kampung Budaya, wisatawan diajak mengenal lebih jauh tentang tradisi dan budaya tradisional Sunda, mulai dari sejarah Kampung Budaya sendiri, pengenalan nama bangunan, nama peralatan memasak tradisional, permainan tradisional, pertunjukan seni, kerajinan tradisional, hingga kegiatan tradisional, seperti nandur dan marak lauk.

Nandur adalah sebutan dari nanam padi bari mundur sedangkan marak lauk ialah menangkap ikan, dalam bahasa Sunda. Nandur dan marak lauk menjadi salah satu kegiatan yang dilakukan di Kampung Budaya. Selain itu, wisatawan juga dapat mencoba membuat batik dengan corak khas sindang barangan, menumbuk padi, bermain egrang, bakiak, serta angklung.

Di sini, Anda bisa memilih paket menginap di beberapa rumah panggung yang tersedia, harganya per rumah berkisar Rp800 ribu untuk empat orang hingga Rp1,2 juta untuk enam orang. Harga sewa rumah sudah termasuk tiga kali makan dan kegiatan full yang ditawarkan Kampung Budaya.

Kampung Budaya Sindangbarang berada di Jalan E.Sukmawijaya Desa Pasir Eurih Kecamatan Tamansari Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Untuk menempuhnya, lebih baik Anda menggunakan kendaraan pribadi sebab lokasinya jauh dari jalan raya.

Dari Tol Jagorawi, Anda arahkan kendaraan keluar menuju Terminal Baranangsiang. Arahkan kendaraan ke Tugu Kujang, ikuti jalan sampai melewati Istana Bogor. Setelah sampai Bogor Trade Mal, jalan menurun lalu belok kanan. Ikuti jalan hingga ke arah Ciapus, kira-kira 15 menit Anda akan sampai di persimpangan Sindangbarang.

Sumber: Okezone.com